Rabu, 29 Agustus 2012

Kompleks Makam Raja-Raja Lamuru

 
Terbentuknya Kerajaan Lamuru

Kapan terbentuknya secara pasti Lamuru sebagai suatu kesatuan Hukum, agak sulit untuk ditentukan secaya pasti, mengingat bahwa hingga kini belum ditemukan suatu data otentik yang menjelaskan kapan berdirinya kerajaan Lamuru.

Tetapi dijadikan lamuru sebagai pemukiman adalah sudah cukup tua. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya artefak-artefak prasejarah sejenis Marospoint dan fleks-fleks yang diperkirakan telah berusia kurang lebih 2.000 tahun sebelum masehi karena terjadi di masa mazelith.

Kesulitan penentuan waktu yang tepat terjadi pula pada kerajaan lain di Sulawesi Selatan. Ini disebabkan karena Sulawesi selatan penemuan tulisan Lontara yang umum dipergunakan di Sulawesi Selatan yang ditemukan padaa masa Pemerintahan Raja Gowa ke IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumaparisi Kallonna yaitu sekitar 1500 Masehi.

Pada masa itulah Tumailalang yaitu daeng Pamatte membuat lontara atas perintah Raja Gowa. Huruf lontara itu pada mulanya hanya mempunyai 18 buah huruf saja dan nanti seratus tahun kemudian ditambahkan huruf ha, sehingga menjadi 19 buah seperti sekarang ini.

Tidak seperti halnya dijawa dimana banyak ditemukan prasasti-prasarti yang dapat menjadi petunjuk tentang perkembangan suatu dinasti atau kerajaan.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUWyt5UCWeJvvYLjy5zz0K6yT-tG99f-_Z3RRb_XzOrI8fLqdHTAzTzL8YOo8Z6JHYhLsQWJbl2usi_w7tdhKIDJ5-rfyYBZSXjQyHUL3y70piwgy7Tg6ICGdDDsiIVNQvZaV1PzW6Dzcq/s1600/24072011033.jpg

Maka untuk mencari penentuan waktu suatu fase pemerintahan di Sulawesi Selatan seperti halnya di Gowa, maka perhitungan dimulai pada masa pemerintahan Raja Gowa X, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng yang tercatat dalam buku lontara memerintah tahun 1547 sampai dengan 1565 yaitu dalam abad ke XVI.

Bertitik tolak dari masa pemerintahan Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng di adakan perhitungan kebelakang hingga sampai pada masa pemerintahan raja Gowa yang pertama yaitu Tamanurung.

Bila diperhitungkan bahwa masa Tumanurunge adalah pada abad XIV atau sekitar tahun 1300. Itulah perkiraan masa berdirinya Kerajaan Gowa.

Secara Apriori ada pendapat tentang sejarah pertumbuhan daerah di Sulawesi Selatan, dimana dianggap bahwa sebagai cikal bakal pertumbuhan dan pembentukan suatu kesatuan hokum selalu dimulai dari Tomanurung. Justru itu di  Sulawesi Selatan selain raja Gowa ke I Tomanurung ri Takabasia, dikenal pula Tomanurung lain, seperti ; Mata Silompoe di Bone, Manurunge ri Matajang, Sampurusiang di Luwu, dan Manurunge ri Sakkanyii Soppeng.

Maka demikian pula di Lamuru dikenal dengan Manurunge ri Selorong yang di beri nama atau gelarang Petta Pitue Matanna. Manurunge ri Solorong inilah yang di anggap sebagai cikal bakal pembentukan Lamuru sebagai suatu kesatuan hokum yang berkembang, kemudian menjadi suatu kerajaan yang disebut kerajaan Lamuru yang gelar Rajanya di sebut Datu.

Berdasarkan atas perhitungan masa Tomanurung di Sulawesi Selatan, maka dapatlah diperkirakan bahwa terbentuknya Lamuru sebagai suatu kesatuan hukum yang kemudian berkembang menjadi suatu kerajaan adalah sekitar abad ke XIV. Dari abad ke XIV inilah kerajaan Lamuru membentuk dirinya melayarkan bahtera pemerintahan disela-sela persaingan lainnya di Sulawesi Selatan.

Dengan usaha sendiri serta tak melepaskan diri dari imbasan kerajaan-kerajaan sekitarnya, Lamuru berusaha mempertahankan eksistensinya sebagai suatu kerajaan.

Akibat karena factor geografis, historis dan kekeluargaan menyebabkan Lamuru mengalami banyak masalah dan peristiwa dalam kelanjutan kehidupannya.

Daftar Raja-Raja Lamuru

1.    Petta Pitue Matanna Manurungnge
2.    Datue Ri Laue
3.    We Tenri Billi
4.    We Baji Daeng Simpare
5.    La Cella Matinroe Ritengngana Soppeng
6.    Jangko Pute
7.    La Mappasunra
8.    La Mappawre
9.    Laruppang Mongga Matinroe Ri Muttiara
10.  Colli Pujie
11.  Jaya Langkana
12.  We Pure Daeng Manerru
13.  We Tenri Baji


Kompleks Makam 

 

Kompleks Makam Raja-Raja Watang Lamuru berada di jalan Poros Makassar-Soppeng, kelurahan Lalebata, kecamatan Lamuru, kabupaten Bone. Terletak diantara sungai Selarong dan sungai Cinoko, serta diantara bukit-bukit Lapatoko.

Lamuru merupakan suatu kerajaan yang berdaulat hingga abad XVI, setelah masa itu Lamuru selalu ditimpa ketidakstabilan. Makam-makam yang terdapat di kompleks ini sebagian besar makam dari Raja-Raja Lamuru yang pernah memerintah.

Makam terbesar yang terdapat pada kompleks makam ini berukuran 4,06 m x 2,50 m x 2,24 m, dengan tinggi nisan 1,10 m. Makam terkecil berukuran 1,46 m x 0,92 m x 0,18 m, dengan tinggi nisan 0,72 m.

Visit to Bone

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanks! Follow Me....